Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Sumber: Kompas, 10 Februari 2010

Denpasar
Pemerintah Provinsi Bali menolak rencana penambahan gajah ke wilayah Bali, khususnya ke Taro dan Bali Zoo Park di Kabupaten Gianyar. Penambahan gajah baru dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan lingkungan karena jumlah gajah yang ada saat ini dinilai sudah maksimal.

Penegasan penolakan itu disampaikan Wakil Dinas Kehutanan Bali Made Gunaja dalam Rapat Koordinasi Pemanfaatan Gajah dan Satwa Liar Lain di Lembaga Konservasi di Indonesia di Sanur, Selasa (9/2).

Gunaja menyatakan, Gubernur Bali telah mengeluarkan rekomendasi bahwa tidak akan ada penambahan gajah lagi di Bali. Penambahan gajah baru akan memperbesar risiko konflik gajah dengan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung, misalnya, terkait pasokan pakan gajah.

Penegasan penolakan atas rencana penambahan gajah juga disampaikan secara terpisah oleh Sekretaris Daerah Provinsi Bali Nyoman Yasa. ”Posisi gajah di Bali sudah over. Penambahan lagi itu hanya wacana saja. Gubernur, saya kira, akan tegas menyikapi hal ini,” kata Yasa.

Permintaan masuknya gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ke Bali itu terungkap dalam rapat yang diinisiasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali. Rapat dihadiri Direktur Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Hari Santosa.

Lembaga konservasi (LK) yang minta izin memasukkan gajah itu adalah Taro dan Bali Zoo Park. Keduanya berada di Gianyar, masing-masing meminta tambahan 10 dan 14 ekor. Sementara itu, LK Kasianan (Badung) minta 15 ekor dan Bakas Safari (Klungkung) minta 20 ekor.

Sebelumnya, Taro sudah memiliki 32 ekor, Kasianan 18 ekor, Bakas 10 ekor, sementara Bali Zoo Park belum memiliki. Jika ditambah dengan Taman Safari Indonesia Bali yang mempunyai 33 ekor, saat ini di Bali sudah terdapat 93 gajah. Berarti, bila izin penambahan baru diberikan, total gajah di Bali menjadi berjumlah 152 ekor.

Dalam rapat itu terungkap, alasan utama penambahan gajah ke Bali untuk atraksi wisata alternatif, gajah tunggang (elephant ride). ”Ini kelebihan tersendiri bagi Bali. Thailand dan India yang notabene tempat gajah dan ’negara gajah’ belum punya ide seperti ini,” kata Dedi Ramlan, ahli gajah yang menjadi salah seorang pemakalah.

Suweta, pengelola LK Bakas, menyatakan, selama ini tidak ada kendala berarti dalam pemeliharaan gajah, termasuk soal pakan gajah. (BEN)

Blogged with the Flock Browser

Sumber: Antara, 9 Pebruari 2010

Denpasar

Pengelola usaha kebun binatang di Bali mengusulkan penambahan satwa gajah sebanyak 59 ekor untuk melengkapi atraksi wisata tersebut, kata Sekretaris Jenderal Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBI), Tony Sumampau di Sanur, Bali, Selasa.

“Kami mengharapkan pemerintah untuk memberikan izin penambahan satwa gajah kepada pengusaha yang memiliki izin lembaga konservasi sebanyak 59 ekor,” katanya. Pada rapat koordinasi pemanfaatan gajah dan satwa liar di lembaga konservasi di Bali itu, ia mengatakan, hingga kini keberadaan gajah di Bali sebanyak 93 ekor dan menjadi daya tarik kepariwisataan Pulau Dewata.

“Atraksi gajah tersebut cukup memberi daya tarik sektor kepariwisatan Bali, dimana antusiasme wisatawan mancanegara menyaksikan panorama wisata dengan menunggangi gajah,” katanya. Ia mengatakan, di Bali saat ini ada empat tempat menunggang gajah, yaitu Taman Safari di Gianyar, Bali Elephant Camp di Kabupaten Badung, Bakas Levi Elephant di Klungkung dan Elephant Safari Park Taro Gianyar.

“Sedangkan yang memiliki izin lembaga konservasi di Bali sebanyak enam lokasi, dan lima di antaranya mengharapkan agar pemerintah memberikan izin pengadaan satwa gajah,” ucap Tony. Ia mengatakan, pengusaha yang mohon izin pengadaan maupun penambahan satwa gajah tersebut adalah Safari Park Taro Kabupaten Gianyar yang mengusulkan tambahan sebanyak 10 gajah.

Bali Elephant Camp 15 gajah dan Levi Elephant di Kabupaten Klungkung sebanyak 20 gajah. Sedangkan yang mohon pengajuan izin pengadaan satwa itu adalah Bali Zoo Park sebanyak 14 gajah. Sementara di tempat terpisah Sekretaris Provinsi Bali Nyoman Yasa mengatakan, untuk menambahan kuota satwa gajah rasanya tidak memungkinkan di Bali, karena dari kajian terdahulu telah melebih kebutuhan maksimal keberadaan satwa asal Sumatera itu.

“Saya rasa untuk penambahan keberadaan satwa gajah secara teknis telah melebih dari keperluan penangkaran di Bali,” ujarnya. Ditanya ada pengusaha yang minta tambahan kuota memasukkan satwa gajah ke Bali, Nyoman Yasa mengatakan, hingga saat ini belum ada surat pengajuan dari pengusaha itu.

“Saya belum terima surat permohonan penambahan satwa gajah. Dan saya rasa tidak memungkinkan ada penambahan gajah di Bali,” katanya. T.I020/R009)

Komentar”:

“hmm..sepertinya ada ketimpangan yang cukup besar dalam upaya konservasi gajah di Indonesia.  Semestinya diatur mekanisme dana yang kembali untuk menyelamtkan gajah liar di habitatnya.  Apabila ini tidak tranparan, maka hanya bisnis semata yang terlihat.  Banyaknya kebutuhan akan gajah jinak menunjukkan besarnya minat investor akan gajah sumatera.  Akan tetapi hal ini juga akan membawa dampak semakin banyaknya alasan untuk kembali menangkap gajah liar di alam apalagi di daerah-daerah yang berkonflik seperti Riau, Aceh, Jambi, Bengkulu, Lampung dan mungkin daerah lainnya. 

Blogged with the Flock Browser

Sumber: Kompas, 08 Februari 2010

Tapaktuan

Dalam dua pekan terakhir, beberapa gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) turun dan merusak kebun para petani di Desa Alue Keujrun, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, Nanggroe Aceh Darussalam. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Masyarakat di daerah itu meminta pemerintah segera melakukan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut. Kepala Dusun Alue Keujrun Gardinsyah (54) ketika ditemui di lokasi, Jumat (5/2), mengatakan, gajah-gajah itu turun pada sore hari ketika warga masih berada di kebun-kebun mereka. ”Akan tetapi, mereka masih bisa menyelamatkan diri,’ katanya.

Gardinsyah mengatakan, lahan perkebunan yang dirusak oleh gajah saat ini sedang ditanami beberapa jenis tanaman, seperti jagung, nilam, pepaya, dan kelapa. Salah satu bangunan yang dirusak adalah tempat penyulingan minyak nilam yang berada di samping lahan perkebunan itu.

Lebih lanjut dia menjelaskan, lahan perkebunan itu milik Tasar (42). Setiap hari Tasar dan keluarganya pergi berkebun. Di lokasi tersebut, Tasar dan keluarganya membangun sebuah gubuk yang digunakan sebagai tempat beristirahat.

”Mereka semua sudah mengungsi ke dusun ini. Mereka belum berani kembali ke lokasi kebunnya karena masih khawatir gajah kembali merusak tanaman mereka,’ tuturnya.

Terinjak gajah

Gardinsyah mengatakan, warganya semakin resah dengan keberadaan kawanan gajah di sekitar tempat tinggal mereka. Apalagi, tuturnya, sekitar pertengahan Januari 2009, salah satu warganya, Misbah (48), secara tidak sengaja terinjak gajah. Beberapa tulang pada tubuhnya patah.
”Dia sekarang belum tinggal di dusun ini, masih menjalani pengobatan di Manggamat,’ katanya. Dia meminta pemerintah untuk bertindak cepat. Bila tidak, warga akan mengusir dan melakukan tindakan lainnya untuk mengurangi kerugian material, salah satunya adalah dengan cara meracun gajah-gajah tersebut.

Berdasarkan data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, konflik satwa selama 2007-2009 menunjukkan peningkatan. Tahun 2007 tercatat 33 kasus, tahun 2008 tercatat 46 kasus, dan pada 2009 sebanyak 30 kasus.

Di Aceh, pada 1996 diestimasi jumlah gajah berkisar 600-700 ekor. Sementara tahun 2007 diperkirakan populasi gajah Aceh berkisar 350-450 ekor. Data BKSDA juga menunjukkan, angka ini cukup mengkhawatirkan karena berarti populasi gajah di Aceh dalam 10 tahun terakhir (1996-2006) berkurang hampir 40 persen.

Pada 2007-2008 (sampai September 2008), gajah liar yang ditangkap atau mati terkait dengan konflik berkisar minimal 39 ekor, yang berarti sekitar 10 persen dari seluruh populasi gajah liar yang hilang lagi dari populasi liar.

BKSDA memperkirakan, populasi gajah sumatera pada akhir tahun 2007 berkisar 2.400 sampai 2.800 ekor. Sebelumnya, salah seorang warga Desa Pintu Rimba, Kecamatan Trumon Timur, Jamadi Pohan, menyatakan hal yang sama. Kawanan gajah, tuturnya, sering kali turun dan menghancurkan tanaman kebun milik warga. Jamadi mengatakan, warga berulang kali melaporkan hal ini kepada pemerintah. Namun, sampai sekarang, tuturnya, tidak ada tindakan konkret terhadap keresahan warga.

Kompleks PT Chevron

Sebelumnya dari Pekanbaru diberitakan, sekawanan gajah berjumlah 25 ekor selama sepuluh hari terakhir menyatroni kompleks perumahan perusahaan minyak PT Chevron di kawasan Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau. Kawanan hewan bertubuh tambun itu tidak merusak perumahan, tetapi memakan tanaman yang berada di sekitar permukiman. (MHD)

Blogged with the Flock Browser

Tags: , , ,

Lihat gambar ukuran penuh
Selama lebih kurang 5 tahun terakhir, penangkapan gajah liar di provinsi Riau dalam upaya mengurangi konflik gajah dan manusia sudah mencapai pada taraf yang mengkhawatirkan. Meskipun pihak Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Ditjen PHKA) telah mengeluarkan surat edaran bahwa  penangkapan gajah untuk mengurangi konflik  tidak akan lagi dilakukan lagi, namun himbauan ini sepertinya tidak diindahkan oleh pihak terkait di tingkat lokal.

Ironisnya, penangkapan gajah liar masih seringkali dilakukan tanpa mengikuti prosedur yang benar dan tanpa koordinasi yang baik sehingga banyak gajah yang mati pada saat penangkapan dilakukan. Diperkirakan populasi gajah di propinsi Riau saat ini telah berkurang hingga 50% dari populasi di tahun 2000. Apabila penangkapan gajah tidak dihentikan dan pengelolaan  konservasi gajah di propinsi Riau tidak dilakukan secara komprehensif maka diperkirakan populasi gajah akan punah secara lokal di propinsi Riau pada tahun 2010.

Blogged with the Flock Browser

KUTACANE – Seekor gajah jantan ditemukan mati di Desa Lau Tawar, Dusun
Gunung Nias, Kecamatan Louser, Kabupaten Aceh Tenggara, Sabtu (14/9).
Direktur Eksekutif Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Selamatkan Isi Alam
Flora dan Fauna (Silfa) Aceh, Irsadi Aristora, kepada Serambi, Senin
(15/9) mengatakan, gajah itu sebelumnya ditangkap tim BKSDA dalam
keadaan hidup, tapi kemudian gajah jantan itu ditemukan mati dan
dagingnya telah dicincang-cincang serta dibagikan kepada masyarakat di
daerah itu.

Menurut LSM Silfa, modus ini dilakukan untuk menghilangkan barang bukti
karena penyidikan belum dilakukan. Sedangkan gading gajah seberat 67
kilogram diamankan tim BKSDA. ?Mereka harus bertanggungjawab atas
kematian gajah itu,? ujar Aristora.

Kematian gajah tidak diselidiki dan tim dokter hewan tidak ada sehingga
hal ini telah menyalahi aturan. ?Kalau gajah mati karena sakit harus
jelas ada tim dokter yang menentukannya, bukan main cincang daging gajah
itu dan hal ini diindikasi adanya permainan dalam hal menghilangkan
barang bukti.?

Seorang anggota tim BKSDA Aceh Besar yang tak ingin disebut namanya
kepada Serambi, Senin (15/9) mengatakan, gajah itu mati secara alamiah
dan bukan dibunuh. Ditanya tentang gading, ia menjawab masih diamankan
dan tak diizinkan untuk melihatnya.

Sementara itu, Sekretaris Desa Lau Kawar Dusun II Nias, Bowoatulo,
mengatakan, mereka tidak tahu penyebab gajah itu mati. Tim BKSDA
menangkap tiga gajah dari jumlah itu dua betina dan satu jantan. Namun,
gajah jantan mati pada Minggu (14/9). Gajah itu semula dikejar oleh tim
BKSDA lalu ditembak dua kali dan sesudah lemah dihajar empat ekor gajah
jinak dari sare Aceh Besar. Lalu, gajah yang empat ekor itu kembali pada
tim BKSDA dan gajah jantan ditinggalkan begitu saja di hutan.

Tak gampang datang ke lokasi itu. Serambi menemukan kotoran gajah di
sepanjang hutan dan medan yang dilalui berliku serta mendaki. Tempat ini
merupakan habitat gajah dan kini telah terusik akibat terjadi penebangan
liar yang semakin marak. Akibat dari hal ini gajah di daerah itu
berkeliaran dan masuk pemukiman warga.(as)

Sumber:

http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=55257&rubrik=1&topik=6

Blogged with the Flock Browser

Tags: , , ,

Embedded Video

Video di atas dari “Footage of Elephants” dari National Elephant Center (http://www.youtube.com/user/NationalElephantCent). 

Bisa dilihat bahwa pemimpin kelompok biasanya dilakukan oleh betina dewasa. Para jantan dewasa lebih memilih hidup sendiri (soliter), namun tetap saja mereka akan bergabung dengan rombongannya apabila saat musim kawin.

Blogged with the Flock Browser

Tags: ,

Mau tahu arti gajah menurut kamus besar bahasa Indonesia?  Ini dia..coba klik di http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi

ga·jah n 1 binatang menyusui berbelalai, bergading, berkaki besar, berkulit tebal, berbulu abu-abu (ada juga yg putih), berdaun telinga lebar, dan hidupnya menggerombol di hutan (terdapat di Asia dan Afrika); Elephas maximus; 2 nama buah catur yg jalannya selalu menyerong (disebut juga menteri); 3 ki segala sesuatu yg berukuran besar: anak itu menangkap kupu-kupu –; — berjuang sama — , pelanduk (kancil) mati di tengah-tengah, pb jika terjadi pertengkaran (peperangan) antara orang (negara) besar, orang kecil (negara kecil) yg celaka; — lalu dibeli, rusa tidak terbeli, pb mengerjakan sesuatu yg penting dng melupakan hal-hal yg kecil yg sebenarnya sangat perlu untuk menyelesaikan sesuatu yg penting itu; — mati krn gadingnya, pb orang yg mendapat kecelakaan atau binasa krn keunggulan (tabiatnya atau perbuatannya); — mati tulang setimbun, pb orang kaya (besar dsb) mati, banyak peninggalannya; — seekor gembala dua, pb pekerjaan yg dikepalai (dipimpin) oleh dua orang; spt — masuk kampung, pb orang yg berkuasa dapat berbuat sekehendak hati di dl lingkungan orang yg lemah; spt ditempuh — lalu, pb suatu hal yg tidak dapat ditutup-tutupi (disembunyikan); terdorong — krn besarnya, pb berbuat sesuatu yg kurang baik krn kekuasaannya;
– bara gajah yg hitam; — barat nama permainan anak-anak; — butang gajah kecil, bergading panjang dan lurus; — gambut gajah besar dan paling pintar, bergading besar, berwarna putih bersih spt lilin; — guling nama dua untai bunga melati penghias sanggul; — hotong gajah kecil, gadingnya kecil, berwarna kemerah-merahan; — lalang gajah yg jinak; — menong hiasan kalung yg bergambar kuda; — menyusu sengkuap (atap) yg bersambung dng rumah; — mina 1 ikan paus; 2 hiasan berupa makara; — tunggal gajah yg berpisah dr kawannya (biasanya sangat galak);
ga·jah-ga·jah·an n 1 kl permainan catur: main ~; 2 penyakit yg menyebabkan kaki membengkak menjadi besar; Elefantiasis;
meng·ga·jah v menyerupai gajah (tampak besar)

Blogged with the Flock Browser

Tags: , ,

 

 

Merdeka! Merdeka!  Merdeka!…  Iya… Sudah 63 tahun kita merdeka. Sudah banyak hasil pembangunan kita rasakan, walaupun banyak pula yang kecewa karena tetap saja pemerataan programnya tidak sampai ke pelosok tanah air.  Lalu untuk gajah sendiri apa saja yang bisa “mereka” rasakan?

Yang jelas mereka tetap tidak akan pernah bisa bicara atau protes dengan kita sebagai manusia, kecuali nabi Sulaiman AS yang mampu mendengar keluhan mereka :) .   Mau bukti mereka mengeluh?  Lihat aja jumlah korban gajah yang terjadi sepanjang 10 tahun ke belakang.  Tidak kurang dari 100 ekor gajah mati di Sumatera selam kurun waktu tersebut.  Tapi pasti ada yang nyeletuk, “Ah itu mah ngga banyak. Kan gajahnya masih sekitar 2400-2800 ekor”.  ” Masih cukuplah itu.” 

Lalu kapan kita bilang tidak cukup?  Sampai seperti badak jawa? Ataupun mau seperti harimau jawa yang akhirnya punah?Coba lihat tulisan fakta gajah di Indonesia di bawah.  Kita memiliki dua sub spesies gajah asia.  Dan itu merupakan suatu kebanggaan dan aset nasional. 

Oleh karena itu, mari sama-sama kita dukung kegiatan konservasi gajah sumatera dengan membantu menjaga habitatnya dari kerusakan yang banyak diakibatkan oleh ulah manusia sendiri.

Blogged with the Flock Browser

Tags: , , , , ,

2mp0gh3.jpg

“Ada-ada aja!” Paling itu komentar yang akan keluar kalau dengar ide judul di atas.  Tapi ya itu memang kenyataannya.  Si satwa besar ini memang mempunyai musuh di alam tapi tidak segalak dan sebengis manusia pada saat mereka membunuh untuk hanya sekedar memperoleh gading atau calingnya.

Lihatlah rasio kelamin antara jantan dan betina gajah sumatera di alam.  Beberapa penelitian menyebutkan bahwa rasio gajah sumatera saat ini sudah mencapai 1:4-5.  Itu berarti setiap 4-5 betina hanya memiliki 1 ekor jantan saja.  Bahkan di beberapa tempat yang kita ketahui, dalam satu kelompok gajah berjumlah 10 ekor haya terdapat 1 ekor jantan.  dan malah biasanya hanya jantan muda ataupun masih anak. 

Apalagi kegiatan perdagangan tetap marak terjadi.  Mau bukti?  Coba lihat beberapa situs di bawah ini:

http://i36.tinypic.com/2a5yzbs.jpg

http://i37.tinypic.com/2mp0gh3.jpg

http://i34.tinypic.com/zkobko.jpg

http://i36.tinypic.com/apiwdw.jpg

http://i36.tinypic.com/xds6xh.jpg

http://i35.tinypic.com/2m6333d.jpg

http://i37.tinypic.com/30wvalw.jpg

Semuanya secara terang-terangan menawarkan gading.  Memang belum jelas apa gading gajah asia taupun afrika, tetapi kalau jelas itu gading, ngga mungkin kan mereka ambil pakai permisi dulu? Capee deh..

Lalu … apa yang harus kita lakukan?  Ada, minimal kkta tidak menjadi golongan yang mencintai pemakaian gading gajah dalam bentuk apapun, walaupun menggunakan alasan bahwa ini adalah untuk benda pusaka seperti keris, golok ataupun benda keramat lain.  Atau bahkan kita pakai sebagai perhiasan walaupun kadarnya kecil.  Bagaimana dengan anda?

Kalau bingung, coba bayangkan gigi anda dicabut dengan paksa oleh orang lain dengan alasan bahwa gigi anda bagus untuk perhiasan kalung buat leher istrinya atau pacarnya. Emang mau, kalau nggak dibayar? Atau mungkin giginya sakit kali. 

Al Fakir Gajah

Blogged with the Flock Browser

Tags: , , ,



Bener ngga sih kita bisa? Seperti dengan yang terjadi konflik antara binatang besar ini dengan manusia.  Gajah liar adalah binatang yang dilindungi dan terancam punah, sehingga penanganan konflik yang terjadi haruslah memperhatikan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut:

1.    Manusia dan gajah sama-sama penting

Situasi konflik manusia dan gajah-liar menempatkan kedua pihak pada situasi dirugikan. Dalam memilih opsi-opsi solusi konflik yang akan diterapkan, pertimbangan langkah untuk mengurangi resiko kerugian yang diderita oleh masyarakat, secara bersamaan harus didasari pertimbangan terbaik untuk konservasi gajah liar yang terlibat konflik.

2.    Site spesifik.

Secara umum konflik muncul karena aktifitas pembukaan areal yang sebelumnya merupakan habitat gajah dan dikonversi menjadi lahan perkebunan atau HTI, namun variasi karakteristik habitat, kondisi populasi dan faktor lain seperti jenis komoditas, intensitas dan potensi solusi yang bervariasi di masing-masing wilayah membuat penanganan konflik menuntut penanganan yang berorientasikan kepada berbagai faktor yang berperan dalam sebuah konflik.  Sehingga sangat memungkinkan terjadinya pilihan kombinasi solusi yang beragam pula di masing-masing wilayah konflik.  Solusi yang efektif disuatu lokasi bisa jadi tidak dapat diterapkan pada situasi konflik di daerah lain, demikian pula sebaliknya.

3.    Tidak ada solusi tunggal

Issue konflik manusia dan gajah liar sebuah issue kompleks menuntut rangkaian kombinasi berbagai solusi potensial yang tergabung dalam  sebuah proses penanggulangan konflik yang komprehensif.

4.    Skala lansekap

Daerah jelajah gajah yang sangat luas membuat upaya penanggulangan konflik yang komprehensive harus berdasarkan penilaian yang menyeluruh dari keseluruhan daerah jelajahnya (home range based mitigation).

5.    Tanggungjawab multi pihak

Selain sebagai sebuah issue konservasi. Konflik mempengaruhi dan berdampak secara sosial dan perekonomian di daerah. Sehingga konflik manusia dan gajah liar   harus melibatkan berbagai pihak yang terkait untuk berbagi tanggungjawab, termasuk dunia usaha para pengguna lahan skala besar.
Blogged with the Flock Browser

Tags: , , , , , ,

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.